Kisah Pasien | Penyintas Leukemia Myeloid Akut (AML-M2): 9 Tahun Pasca Transplantasi, Merangkul Kekuatan Harapan dan Kelahiran Kembali
Pada tahun 2014, hanya lima bulan setelah menjadi seorang ayah, Bapak Liang (nama samaran) menerima diagnosis yang menghancurkan: Leukemia Mieloid Akut (AML-M2). Dunianya terbalik saat ia mengalami kenyataan pahit tentang kerapuhan hidup. Meskipun menjalani dua putaran kemoterapi di tempat tinggalnya, kondisinya tetap tidak membaik, mendorongnya dan keluarganya untuk mencari perawatan yang lebih khusus. Mereka tiba di Rumah Sakit Lu Daopei, di mana rencana perawatan komprehensif disusun oleh Dr. Zhang Xian dan tim di Departemen Hematologi, yang membawa harapan bagi keluarga tersebut saat Liang memasuki remisi total.
Namun, pertempuran masih jauh dari selesai. Dengan tujuan mencapai kesembuhan permanen, Liang dipindahkan ke tim Dr. Zhou Jirui untuk mempersiapkan transplantasi sel punca haploidentik yang menyelamatkan nyawa. Proses transplantasi sangat melelahkan, ditandai dengan rasa sakit fisik yang luar biasa, beban mental akibat banyak putaran kemoterapi, dan tekanan finansial. Namun, di tengah tantangan-tantangan ini, Liang tetap teguh pada keyakinannya akan kekuatan hidup dan cinta.
Pada tanggal 15 Februari 2015—beberapa hari sebelum Tahun Baru Imlek—ia menerima infus sel punca ayahnya yang mengubah hidupnya, menandai awal kelahirannya kembali. Pemulihan selanjutnya sangat berat, dengan komplikasi seperti sistitis hemoragik, viremia sitomegalovirus (CMV), dan penyakit graft-versus-host akut (GVHD), tetapi dengan perawatan ahli dari Dr. Zhou dan tim medisnya yang berdedikasi, Liang terus membaik.
Sembilan tahun pasca transplantasi, Liang telah pulih sepenuhnya dan menjalani kehidupan normal, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesionalnya. Hasil tes medisnya menunjukkan remisi yang stabil, dengan kadar gen fusi AML1-ETO yang terus menurun, dan kondisinya tetap stabil tanpa tanda-tanda kekambuhan.
Merenungkan perjalanannya, Liang berbagi, “Di tengah rasa sakit dan penderitaan, saya berpegang teguh pada harapan, yang menjadi cahaya yang menuntun saya melewati kegelapan. Hidup itu seperti benih; dengan cinta dan perhatian, ia akan tumbuh dan mekar. Saya percaya bahwa di mana pun kita berada, jika kita berpegang teguh pada iman kita, kita dapat berdiri tegak seperti pohon, melewati badai apa pun.”
Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Dr. Zhou, Dr. Wang Jingyu, dan staf perawat di Rumah Sakit Lu Daopei, yang profesionalisme dan belas kasihnya yang tak tergoyahkan telah memberinya kesempatan kedua untuk hidup. Ia juga menyampaikan terima kasih yang tulus kepada istrinya, yang telah memberikan cinta dan dukungan tanpa henti saat merawat anak mereka selama masa-masa paling sulit.

Kisah Liang bukan hanya kisah kemenangan medis, tetapi juga bukti cinta, keberanian, dan kekuatan keyakinan. Kisah ini menjadi inspirasi bagi semua pasien yang berjuang melawan penyakit mereka sendiri. Pesannya kepada sesama pasien: "Percayalah pada kekuatan harapan, percayalah pada dokter Anda, percayalah pada keluarga Anda, dan yang terpenting, percayalah pada diri Anda sendiri. Betapa pun sulitnya jalan di depan, dengan keyakinan di hati Anda, Anda akan bersinar terang, menerangi jalan ke depan."
Latar Belakang Pasien:
- Usia Pasien: 32
- Diagnosa: AML-M2 (dengan gen fusi AML1-ETO positif dan kelainan kromosom Y)
- PerlakuanSetelah kemoterapi yang tidak berhasil, ia menjalani transplantasi sel induk haploidentik menggunakan sel ayahnya pada Februari 2015 di Rumah Sakit Lu Daopei.
- Komplikasi pasca transplantasi: Sistitis hemoragik, viremia CMV, dan GVHD akut (tipe kulit).
- Status Saat Ini: Remisi stabil, 9 tahun pasca transplantasi, menjalani kehidupan yang sehat dan normal.
Kisah Liang adalah bukti dampak transformatif dari pengobatan hematologi modern, dan harapan yang dapat dialami setiap pasien melalui perawatan terampil yang diberikan di Rumah Sakit Lu Daopei.










